12 Jul 2009

tentang penyair busuk

hampir setiap malam bisikan busuk itu datang
merengkuh tidurmu yang tersesat dalam mimpi buruk abadi
lalu kau teriakan igau demi igau
mencari sesuatu dalam galau
sampai akhirnya ia menjelma puisi; puncak bahasa
dimana kau berdiam dalam kenyataan yang sisa

kau hidup dari sisa-sisa;
keberangkatan dan kepulangan
yang tak memberikan apapun padamu
selain sesal dan kutukan yang lewat puisi diam-diam kau sembunyikan
sebagai nyala sekam

kepulangan dan keberangkatan yang tak memberikan
apapun selain rasa kehilangan yang terlalu dibesar-besarkan
sebab kau selalu mengakhiri segalanya
dengan keraguan

maka puisimu penuh dengan tangis samaran
mungkin lewat kata-kata kau berharap diam-diam
seseorang akan tercungkil mata batinnya,
(sebab itulah hal terpenting yang ingin kau katakana padanya)
mungkin pula puisimu penuh dengan tangis yang jujur
dan dengan kejujuran yang nekat itu kau harap seseorang akan merasa tertelanjangi

ssiapapun yang tak mengenal dosa adalah orang lugu
demikianlah
sajak-sajakmu menjadi bahasa sisa dari hati lumpuhmu
dan tanganmu semakin membusuk
di penjuru rumah
di penjuru waktu


jogja, 2008

17 Mei 2009

Tradisi Akademik dalam Arus Budaya Pop*






Oleh: Ridwan Munawwar


Sebuah fenomena ibarat sebiji bawang, ia terdiri dari kulit yang berlapis-lapis. Bila kita menelisik salah satu lapisannya, akan kita temukan sebuah penanda yang akan mengacu pada lapisan berikutnya di mana disitu kita akan menemukan penanda lain lagi untuk lapisan yang berikutnya.
Marilah kita ambil fenomena urgen yang saat ini tengah berlangsung di sekitar kita. Fenomena yang telah menimbulkan sejumlah problematika yang kompleks. Fenomena itu adalah budaya pop. Sudah bukan rahasia bahwa generasi muda kita sangat dekat dengan budaya pop tak tertinggal juga kalangan mahasiswa/i tentunya. Dan kedekatan ini sesungguhnya memperlihatkan penurunan kualitas tertentu dalam “kinerja” kultural mereka. Akan tetapi marilah kita telisik lebih mendalam lagi apa itu budaya pop dan bagaimana bentuknya dalam berbagai hal.
Istilah pop sendiri bermakna suatu nilai yang simplistik, dangkal, banal, masturbatif, dan kacangan. Watak simplistis dan banal itu menjamur ke dalam berbagai segmen kebudayaan; ekonomi massa, politik, sosial, media-wacana, tradisi akademik dan—terutama—kesenian. Dan kesemuanya membentuk sebuah bawang raksasa, semua masalah itu berjalin kelindan satu sama lain. Anda mungkin akan membahasakan ini sebagai jejaring kekuasaan (power relation).
Penggagas utama dari kategori budaya pop yakni Theodore W. Adorno seorang filsuf madzhab Frankfurt memperlihatkan dengan tajam kaitan antara kultur industrial dengan gaya hidup nge-pop secara luas. Kehidupan ekonomi konsumerisme yang selama ini membelenggu jiwa masyarakat kita memang telah menanamkan sifat fetitistik (hasrat pada citra benda) dan itulah inti utama gaya hidup ngepop. Karena gaya hidup berarti cara berfikir, maka dari perilaku ekonomi banal ini kemudian menular ke dalam segi lain. Jadi boleh dibilang bahwa kekacauan perilaku ekonomi adalah biang budaya nge-pop.
Dalam dunia kesenian contohnya, kita melihat gejala menjamurnya genre pop-art ala Andy Warhol dalam bidang desain grafis, estetika mural, graffiti, seni lukis. Watak seni pop adalah kecenderungan untuk mengeksploitasi hal-hal profan dari manusia, seperti erotisme tubuh, keliaran hasrat atau wilayah absurd personal di tengah publik yang kesemuanya tertransfigurasikan lewat media yang dipakai kesenian itu secara khusus. Estetika kesenian pop tidak mengenal nilai transedensi humanitas, tetapi lebih cenderung mengeksplorasi hasrat-hasarat dangkal dan terkadang sisi gelap dalam diri manusia.
Pun dalam dunia akademik, kecenderungan akan watak budaya pop mulai menjangkiti jiwa para aktor dan subjek tradisi akademis dalam berbagai lapisannya. Mahasiswa lebih senang dengan gaya hidup yang ngepop dan hura-hura (main hape, leptop untuk urusan yang tidak penting) tak ketinggalan juga dengan kalangan dosennya. Nampaknya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa mereka terpengaruh sekali oleh media massa—terutrama televisi—yang porsi besarnya adalah anasir pop. Lihat saja, kegiatan di kampus pun kini lebih mirip dengan kegiatan-kegiatan popular di mall atau tayangan televise; door-prize, nongkrong, dll.
“Ngepop” adalah berarti pola konsumsi yang telah dan akan dibentuk oleh kekuasaan pasar lewat media pencitraannya saat ini. Apapun komoditas (barang belian) tidak dibeli berdasarkan fungsi dan kebutuhan yang sesungguhnya, tetapi berdasarkan rasa tertarik, eye catching dan ukuran-ukuran semu lainnya. Saat ini, Semua hal tengah dikomoditaskan, tak terkecuali ilmu pengetahuan. Buku-buku diperdagangkan dengan mengedepankan citra dan unsur-unsur artifisial dan bukan karena fungsi atau memang kualitas diskursifnya yang patut dibutuhkan.
Apakah ini suatau pertanda dari kematian tradisi kritis manusia akademis telah menurun. Manusia-manusia yang berjalan di kampus bukan lagi homo academicus yang berfikir kritis, tetapi homo fatalis yang turut pada kehendak konsumtifnya secara banal.

Tirani Visualitas di Kampus
Selain sifat konsumtif; budaya pop memiliki ciri khas lain yakni tirani visualitas. Itu adalah dimana sistem kognitif manusia memiliki kecenderungan untuk berfikir secara praktis dan cepat dan instan. Segala sesuatu ide harus difikirkan “secara gambar”, skematis dan dipresentasikan dengan indah layaknya demo produk masakan. Kebiasaan memakai power point dalam perkuliahan adalah salah satu contoh dari tirani visualitas ini. Setiap proposisi ilmiah seakan selalu dicari sisi parodikalnya, sisi karikaturalnya.
Dalam visualitas yang dibanalisasikan ini, karakter berfikir rigid secara textase pun hilang. Dulu para mahasiswa harus memiliki rasa karsa bahasa yang cukup tinggi untuk menalar sebuah proposisi filsafati ataupun sebuah buku ilmiah, kini cukup dengan mengkonsumsi bagan-bagan dari power-point itu. Saya tidak tahu apakah ada kaitan antara pola belajar power point ini dengan penurunan kreativitas karya tulis mahasiswa, ini kita rasakan dengan nyata di UIN Sunan Kalijaga.
Gaya keilmuan yang ngepop lebih disukai mahasiswa saat ini. Mereka lebih suka acara-acara talk-show yang menampilkan banyak atribut yang meriah dan gaul ketimbang diskusi yang rigoreous.

Benarkah Internet Memajukan Kampus?
Majunya tekhnologi informasi disinyalir banyak kalangan sebagai pertanda sekaligus kemajuan dalam kemodernan setiap lapisan masyarakat, termasuk dunia kampus sebagai salah satu institusi sosio-kultural. Tapi benarkah adanya internet sungguh-sungguh memajukan kualitas kademik kita secara signifikan?
Benar bahwa dengan internet, lapangan informasi semakin luas dan mudah diakses. Namun pada kenyataannya internet malah menjadikan insan akademis semakin manja dan cenderung malas berfikir secara mandiri. Dalam pembuatan makalah kuliah saja, mereka cenderung mengandalkan internet dengan gaya “copy-paste and little editing”. Kebanyakan sikap mahasiswa selalu eforistik terhadap adanya internet. Mereka bangga dengan referensi internet, seolah itu adalah referensi utama dari wacana keilmuan. Padahal sesungguhya sedikit sekali grand-reference di internet. Mereka lupa untuk membaca buku-buku babon. Dan pada umumnya, mahasiswa lebih senang bermain internet untuk having fun saja, persentase untuk yang serius sedikit sekali.
Semua fakta ini menyodorkan kita satu pertanyaan yang sedehana dan tak mudah dijawab; “apakah budaya pop kontra-produktif atau sebaliknya terhadap dunia akademis kampus?”.

Jogjakarta, Mei 2009


*) tulisan ini disampaikan dalam acara diskusi rutin PTKM HMI Fishum tgl 13 Mei 2009